No bedong no gurita
12 01 2011No bedong, no gurita!
Say goodbye to the ol’ bedong and gurita!
Mudah sekali mengatakannya. Tapi prakteknya mungkin agak sulit, apalagi di daerah-daerah tertentu di Indonesia dimana adat turun-temurun masih dipegang dengan sangat kuat, bahkan level evidence nya mungkin dianggap di atas 1A (di atas systematic review? Apa ada? Hahaha) oleh para pemegang kepercayaan itu.
“belum tentu kalian nanti bisa melawan kakek atau nenek atau kakek nenek mertua. Biarpun dokter tapi tetep dianggap anaknya, tetep dianggap anak kecil. ‘kamu dulu juga tak gurita, sekarang jadi dokter,’”
Begitu kata dr. Tunjung saat kuliah Jumat, 19 November 2010 lalu.
Kekuatan kepercayaan dan adat masyarakat memang bisa agak mengerikan, meskipun terkadang hal itu di luar nalar dan jalan pikiran yang logis. Atau mungkin, kengototan orang tua dan mertua juga terkadang bisa sama mengerikannya. Entahlah, saya tidak tahu apa-apa tentang masalah itu. Baik, stop masalah adatnya. Yang mau saya bicarakan adalah alasannya, kenapa kita jangan melakukan hal itu lagi?
Satu, masalah bedong. Alasan pembedongan bayi adalah untuk menjaga kehangatan bayi. Memang betul, bayi gampang kedinginan dan kehilangan panas tubuhnya, apalagi dengan transisi suhu yang drastis dari rahim ibu yang 36-37°C ke suhu luar rahim yang sekitar 30°C. Pusat pengatur suhu tubuh di hipotalamus, pada bayi juga belum matang, jadi bayi nggak bisa ngatur suhu tubuhnya sendiri seperti orang dewasa. Plus bayi juga nggak bisa menghasilkan panas melalui shivering atau menggigil. Kalo kita kedinginan kan, kita bakal menggigil, itu adalah usaha tubuh kita untuk menghasilkan panas. Tapi bayi nggak bisa menggigil, tau-tau dingin aja. Bahaya kan. Nah tapiii, dengan pembedongan itu, gerak bayi jadi terbatas kan? Padahal, karena bayi nggak bisa menggigil tadi, salah satu usahanya untuk menghasilkan panas kan dengan menggerakkan tubuhnya. Lha kalau dibedong, dia malah jadi nggak bisa memproduksi panas dengan bergerak dong…
Itu kalau dia lagi butuh produksi panas. Sekarang, kalau kayak di daerah tropis seperti Indonesia misalnya; atau cuaca/ suhu lingkungan lagi panas-panasnya. Dengan bedong itu, bayi kan jadi kayak di”kekep”, dia malah bisa kepanasan… kasihan kan…
Belum lagi, kalau membedongnya kekencengan. Ini bisa mengubah bentuk panggul bayi, jadi ntar pas dia gede jalannya gak bagus. Ini justru kontras sekali dengan alasan pembedongan yang kedua; katanya biar kakinya nggak ”O”. Nah kalo masalah itu, itu urusannya vitamin D, bukan masalah dibedong atau enggak… jadi kalo gak mau bentuk kakinya ”O”, jangan dibedong ya, tapiii cukupilah kebutuhan vitamin D kita…
Dua, gurita! Dulu aku merasa lucu lihat gurita, talinya banyak banget, pasti ribet makenya. Ngapain coba ribet2 pake gurita begitu? Kenapa juga talinya banyak sekali? Ini juga, katanya biar hangat.
Inget pelajaran SMP-SMA dulu, ada 2 tipe pernapasan kan, pernapasan dada dan pernapasan perut, nah, pada bayi, tipe napasnnya adalah pernapasan perut. Kalo perutnya digubet-gubet, diiket-iket pake gurita gitu, ugh, bisa bayangin gak, jadi susah kan napasnya…
Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
No bedong no gurita
12 01 2011No bedong, no gurita!
Say goodbye to the ol’ bedong and gurita!
Mudah sekali mengatakannya. Tapi prakteknya mungkin agak sulit, apalagi di daerah-daerah tertentu di Indonesia dimana adat turun-temurun masih dipegang dengan sangat kuat, bahkan level evidence nya mungkin dianggap di atas 1A (di atas systematic review? Apa ada? Hahaha) oleh para pemegang kepercayaan itu.
“belum tentu kalian nanti bisa melawan kakek atau nenek atau kakek nenek mertua. Biarpun dokter tapi tetep dianggap anaknya, tetep dianggap anak kecil. ‘kamu dulu juga tak gurita, sekarang jadi dokter,’”
Begitu kata dr. Tunjung saat kuliah Jumat, 19 November 2010 lalu.
Kekuatan kepercayaan dan adat masyarakat memang bisa agak mengerikan, meskipun terkadang hal itu di luar nalar dan jalan pikiran yang logis. Atau mungkin, kengototan orang tua dan mertua juga terkadang bisa sama mengerikannya. Entahlah, saya tidak tahu apa-apa tentang masalah itu. Baik, stop masalah adatnya. Yang mau saya bicarakan adalah alasannya, kenapa kita jangan melakukan hal itu lagi?
Satu, masalah bedong. Alasan pembedongan bayi adalah untuk menjaga kehangatan bayi. Memang betul, bayi gampang kedinginan dan kehilangan panas tubuhnya, apalagi dengan transisi suhu yang drastis dari rahim ibu yang 36-37°C ke suhu luar rahim yang sekitar 30°C. Pusat pengatur suhu tubuh di hipotalamus, pada bayi juga belum matang, jadi bayi nggak bisa ngatur suhu tubuhnya sendiri seperti orang dewasa. Plus bayi juga nggak bisa menghasilkan panas melalui shivering atau menggigil. Kalo kita kedinginan kan, kita bakal menggigil, itu adalah usaha tubuh kita untuk menghasilkan panas. Tapi bayi nggak bisa menggigil, tau-tau dingin aja. Bahaya kan. Nah tapiii, dengan pembedongan itu, gerak bayi jadi terbatas kan? Padahal, karena bayi nggak bisa menggigil tadi, salah satu usahanya untuk menghasilkan panas kan dengan menggerakkan tubuhnya. Lha kalau dibedong, dia malah jadi nggak bisa memproduksi panas dengan bergerak dong…
Itu kalau dia lagi butuh produksi panas. Sekarang, kalau kayak di daerah tropis seperti Indonesia misalnya; atau cuaca/ suhu lingkungan lagi panas-panasnya. Dengan bedong itu, bayi kan jadi kayak di”kekep”, dia malah bisa kepanasan… kasihan kan…
Belum lagi, kalau membedongnya kekencengan. Ini bisa mengubah bentuk panggul bayi, jadi ntar pas dia gede jalannya gak bagus. Ini justru kontras sekali dengan alasan pembedongan yang kedua; katanya biar kakinya nggak ”O”. Nah kalo masalah itu, itu urusannya vitamin D, bukan masalah dibedong atau enggak… jadi kalo gak mau bentuk kakinya ”O”, jangan dibedong ya, tapiii cukupilah kebutuhan vitamin D kita…
Dua, gurita! Dulu aku merasa lucu lihat gurita, talinya banyak banget, pasti ribet makenya. Ngapain coba ribet2 pake gurita begitu? Kenapa juga talinya banyak sekali? Ini juga, katanya biar hangat.
Inget pelajaran SMP-SMA dulu, ada 2 tipe pernapasan kan, pernapasan dada dan pernapasan perut, nah, pada bayi, tipe napasnnya adalah pernapasan perut. Kalo perutnya digubet-gubet, diiket-iket pake gurita gitu, ugh, bisa bayangin gak, jadi susah kan napasnya…
Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
Kata Mutiara
29 11 2008Wanita Cantik
Wanita cantik,
melukis kekuatan lewat masalahnya,
tersenyum saat tertekan,
tertawa di saat hati sedang menangis, Read the rest of this entry »
Comments : 2 Comments »
Tags: wanita
Categories : Sastra
Artikel
29 11 2008Kelamin Ganda, Penyakit Atau Penyimpangan Gender?
Selasa, 28 Oktober 2008 10:53
Prof. Dr. Sultana MH Faradz, PhD
Apakah istilah kelamin ganda benar?
Istilah kelamin ganda sering rancu dikalangan masyarakat medis maupun umum. Masyarakat umum sering berependapat sama dengan banci atau sama dengan laki-laki yang seperti perempuan. Dalam dunia medis kelamin ganda sebenarnya disebut dengan ambiguous genitalia yang artinya alat kelamin meragukan, namun belakangan ini para ahli endokrin menggunakan istilah Disorders of Sexual Development (DSD). Read the rest of this entry »
Comments : 2 Comments »
Tags: ambiguous genitalia, dsd, Health, kelamin ganda, medical
Categories : Health
Puisi
28 11 2008Aku Ingin Membunuhku
Kau tahu?
Aku ingin membunuhku
Atas kebodohanku padaku
Atas kesia-siaanku padaku Read the rest of this entry »
Comments : Leave a Comment »
Tags: puisi, Sastra
Categories : Sastra
Puisi
28 11 2008Arah Hilang
Kepak yang patah
lalu
tapak langkah
berkeliaran di taman batu
hai, batu kecil
hai, batu besar
apa kau menemukan sayap peri? Read the rest of this entry »
Comments : Leave a Comment »
Tags: puisi, Sastra
Categories : Sastra
Cerpen
25 11 2008Luka Venus
Luka itu selalu ada
Menusuk retina
Memutus aorta
Ia begitu cantik. Begitu lembut, begitu anggun, tetapi seolah tak tersentuh. Bak patung kristal yang indah, sekaligus rapuh. Seperti saat Cinderella datang ke pesta Sang Pangeran, gadis itu pun langsung menarik perhatian sejak pertama kali ia memasuki gerbang sekolah Dhyta. Masih tercetak jelas dalam benak Dhyta, ketika gadis kristal itu memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Maharani Venus Lazuardi. Read the rest of this entry »
Comments : 2 Comments »
Tags: cerpen, Sastra
Categories : Sastra
English Quote
25 11 2008The Only Thing You Have To Fear Is the Fear Itself
Kalimat di atas merupakan quote yang terkenal dari salah satu mantan presiden Amerika Serikat; Franklin Delano Roosevelt. Kalau di-translate ke Bahasa Indonesia, kira-kira artinya begini: “Satu-satunya hal yang harus kau takuti adalah rasa takut itu sendiri”.
Saat membaca quote itu untuk pertama kalinya, hal pertama yang muncul dalam memori saya yang berantakan ini adalah salah satu percakapan antara Harry Potter dan Profesor Lupin. Read the rest of this entry »
Comments : 3 Comments »
Tags: english quote, fear, roosevelt
Categories : My Article
Just try to make some rhymes…
25 11 2008When the blinking stars disappears
And the glittering moon faded to shades
Standing here with my backpack
I saw you at your back Read the rest of this entry »
Comments : Leave a Comment »
Tags: puisi, Sastra
Categories : Sastra


Recent Comments