No bedong no gurita

No bedong, no gurita!

Say goodbye to the ol’ bedong and gurita!
Mudah sekali mengatakannya. Tapi prakteknya mungkin agak sulit, apalagi di daerah-daerah tertentu di Indonesia dimana adat turun-temurun masih dipegang dengan sangat kuat, bahkan level evidence nya mungkin dianggap di atas 1A (di atas systematic review? Apa ada? Hahaha) oleh para pemegang kepercayaan itu.
“belum tentu kalian nanti bisa melawan kakek atau nenek atau kakek nenek mertua. Biarpun dokter tapi tetep dianggap anaknya, tetep dianggap anak kecil. ‘kamu dulu juga tak gurita, sekarang jadi dokter,’”
Begitu kata dr. Tunjung saat kuliah Jumat, 19 November 2010 lalu.
Kekuatan kepercayaan dan adat masyarakat memang bisa agak mengerikan, meskipun terkadang hal itu di luar nalar dan jalan pikiran yang logis. Atau mungkin, kengototan orang tua dan mertua juga terkadang bisa sama mengerikannya. Entahlah, saya tidak tahu apa-apa tentang masalah itu. Baik, stop masalah adatnya. Yang mau saya bicarakan adalah alasannya, kenapa kita jangan melakukan hal itu lagi?
Satu, masalah bedong. Alasan pembedongan bayi adalah untuk menjaga kehangatan bayi. Memang betul, bayi gampang kedinginan dan kehilangan panas tubuhnya, apalagi dengan transisi suhu yang drastis dari rahim ibu yang 36-37°C ke suhu luar rahim yang sekitar 30°C. Pusat pengatur suhu tubuh di hipotalamus, pada bayi juga belum matang, jadi bayi nggak bisa ngatur suhu tubuhnya sendiri seperti orang dewasa. Plus bayi juga nggak bisa menghasilkan panas melalui shivering atau menggigil. Kalo kita kedinginan kan, kita bakal menggigil, itu adalah usaha tubuh kita untuk menghasilkan panas. Tapi bayi nggak bisa menggigil, tau-tau dingin aja. Bahaya kan. Nah tapiii, dengan pembedongan itu, gerak bayi jadi terbatas kan? Padahal, karena bayi nggak bisa menggigil tadi, salah satu usahanya untuk menghasilkan panas kan dengan menggerakkan tubuhnya. Lha kalau dibedong, dia malah jadi nggak bisa memproduksi panas dengan bergerak dong…
Itu kalau dia lagi butuh produksi panas. Sekarang, kalau kayak di daerah tropis seperti Indonesia misalnya; atau cuaca/ suhu lingkungan lagi panas-panasnya. Dengan bedong itu, bayi kan jadi kayak di”kekep”, dia malah bisa kepanasan… kasihan kan…
Belum lagi, kalau membedongnya kekencengan. Ini bisa mengubah bentuk panggul bayi, jadi ntar pas dia gede jalannya gak bagus. Ini justru kontras sekali dengan alasan pembedongan yang kedua; katanya biar kakinya nggak ”O”. Nah kalo masalah itu, itu urusannya vitamin D, bukan masalah dibedong atau enggak… jadi kalo gak mau bentuk kakinya ”O”, jangan dibedong ya, tapiii cukupilah kebutuhan vitamin D kita…
Dua, gurita! Dulu aku merasa lucu lihat gurita, talinya banyak banget, pasti ribet makenya. Ngapain coba ribet2 pake gurita begitu? Kenapa juga talinya banyak sekali? Ini juga, katanya biar hangat.
Inget pelajaran SMP-SMA dulu, ada 2 tipe pernapasan kan, pernapasan dada dan pernapasan perut, nah, pada bayi, tipe napasnnya adalah pernapasan perut. Kalo perutnya digubet-gubet, diiket-iket pake gurita gitu, ugh, bisa bayangin gak, jadi susah kan napasnya…

Advertisements

Artikel

Kelamin Ganda, Penyakit Atau Penyimpangan Gender?

Selasa, 28 Oktober 2008 10:53

Prof. Dr. Sultana MH Faradz, PhD

Kordinator Tim Penyesuaian Kelamin RS Dr Kariadi/ Fakultas Kedokteran Undip

Apakah istilah kelamin ganda benar?

Istilah kelamin ganda sering rancu dikalangan masyarakat medis maupun umum. Masyarakat umum sering berependapat sama dengan banci atau sama dengan laki-laki yang seperti perempuan. Dalam dunia medis kelamin ganda sebenarnya disebut dengan ambiguous genitalia yang artinya alat kelamin meragukan, namun belakangan ini para ahli endokrin menggunakan istilah Disorders of Sexual Development (DSD). Continue reading

Cerpen

Luka Venus

 

Luka itu selalu ada

Menusuk retina

Memutus aorta

Ia begitu cantik. Begitu lembut, begitu anggun, tetapi seolah tak tersentuh. Bak patung kristal yang indah, sekaligus rapuh. Seperti saat Cinderella datang ke pesta Sang Pangeran, gadis itu pun langsung menarik perhatian sejak pertama kali ia memasuki gerbang sekolah Dhyta. Masih tercetak jelas dalam benak Dhyta, ketika gadis kristal itu memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Maharani Venus Lazuardi. Continue reading

English Quote

The Only Thing You Have To Fear Is the Fear Itself


Kalimat di atas merupakan quote yang terkenal dari salah satu mantan presiden Amerika Serikat; Franklin Delano Roosevelt. Kalau di-translate ke Bahasa Indonesia, kira-kira artinya begini: “Satu-satunya hal yang harus kau takuti adalah rasa takut itu sendiri”.

Saat membaca quote itu untuk pertama kalinya, hal pertama yang muncul dalam memori saya yang berantakan ini adalah salah satu percakapan antara Harry Potter dan Profesor Lupin. Continue reading